Posts

Emas dan Perak Bukan Lagi Barang Ribawi

Image
Imam Rafi'i dalam kitab al-Aziz menyebutkan alasan emas dan perak menjadi barang ribawi. Beliau berkata: (واما) النقدان فعن بعض الاصحاب ان الربا فيهما لعينهما لا لعلة والمشهور ان العلة فيها صلاح التنمية الغالبة وان شئت قلت جوهرية الاثمان غالبا والعبارتان تشملان التبر والمضروب والحلى والاوانى المتخذة منهما وفي تعدى الحكم إلى الفلوس إذا راجت حكاية وجه لحصول معني التنمية والاصح خلافه لانتفاء التنمية الغالبة [الرافعي ، عبد الكريم، فتح العزيز بشرح الوجيز = الشرح الكبير للرافعي، ١٦٤/٨] Ada kesimpulan menarik dari pernyataan Imam Rafi'i di atas. Menurut pendapat yang populer dikalangan Mazhab Syafi'i emas dan perak disebut barang ribawi bukan karena dzatiyah emas dan perak itu sendiri. Tapi karena ada illat (alasan) di dalamnya. Illatnya adalah emas dan perak itu adalah alat tukar utama atau yang disebut 'tsaman gholib'. Nah. Selanjutnya kita tarik ke prinsip fikih yang mengatakan bahwa: "Ada dan tidak adanya hukum itu tergantung dengan ada dan tidak adany...

Hukum Berpenampilan Menjadi Sinterklas | Hasil Rumusan Bahsil Masail

Image
📕📕 Muslim Menjadi Sinterklas Deskripsi Masalah 25 Desember 2020 kemarin saya dikagetkan oleh sebagian muslim yang berbaju sinterklas dan menghibur anak-anak dipinggir jalan Pertanyaan: bagaimana hukum seorang muslim memakai baju sinterklas itu? Jawaban: Umat Kristiani mengenal figur yang bernama Santo Nikolas. Dia adalah seorang uskup yang dianggap dermawan. Kini dia dikenal sebagai Sinterklas. Dia digambarkan sebagai pria berjenggot dan memakai baju khas seperti yang dipakai oleh sinterklas-sinterklas hari ini. Kini, sinterklas ini oleh umat kristiani dianggap sosok penting dalam setiap kegiatan natal mereka. Meninjau bahwa sinterklas adalah figur umat Kristen, dan baju ala sinterklas diyakini sebagai atribut khas Uskup Santo Nikolas, serta sinterklas adalah sosok penting dalam acara natal umat kristiani, maka hukum berpenampilan menjadi Sinterklas diperinci sebagai berikut: • Jika Yang berpenampilan itu ridlo dan condong pada kekufuran atau suka kepada agama mereka atau...

Hari Ahad atau Minggu?

Image
Hari Ahad atau Minggu? Oleh: Luthfi Abdoellah Tsani* Beberapa nama tempat di Indonesia identik dengan bahasa Arab. Danau Toba konon berasal dari bahasa Arab " toyyibah " yang artinya bagus. Maluku juga berasal dari kata " muluk " yang artinya beberapa raja. Bahkan banyak bahasa Indonesia sendiri yang diserap dari bahasa Arab. Misalnya, istirahat, abjad, kalimat, ahli dan masih banyak yang lainya. Semua kata yang saya tulis di atas itu berasal dari bahasa Arab yang kini sudah diserap menjadi bahasa Indonesia. Organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlotul Ulama', juga banyak memberi nama badan otonom atau lembaga di bawahnya dengan nama-nama Arab. Fatayat, Muslimat, Ansor, Rijal Ansor, Ma'arif. Ini semua adalah bahasa Arab. Bahkan nama-nama hari di Indonesia pun juga menggunakan bahasa Arab. Senin asalnya " itsnain" . Artinya hari ke dua. " Tsulasa" yang artinya ke tiga, menjadi Selasa dan seterusnya. Kecuali hari Minggu. Dalam ...

Sejarah Lagi: Khalifah Adil dan Dzalim

Image
Ulama hebat, menantu Abu Hurairah, dia adalah Saad bin Musayyb, pernah disiksa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, dicambuk, direndam saat musim dingin, bahkan dirantai dan dibawa keliling pasar.  Selanjutnya khalifah Umar bin Abdil Aziz, ponakan sekaligus menantu Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Selain pemimpin, beliau juga merupakan ulama. Beliau membuat dua kebijakan yang memiliki peran besar dalam penyebaran ilmu agama. Pertama, beliau mengirim da'i ke berbagai wilayah untuk mengajarkan ilmu agama. Persis seperti yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab.   Kedua, perintah untuk menulis dan mencetak karya ulama. Alasan beliau, hawatir ilmu agama hilang gara-gara banyaknya ulama yang wafat. Artinya, sistem khilafah tidak menjamin adanya keadilan. Bisa adil, seperti Umar bin Abdil Aziz, juga bisa tidak adil, seperti Abdul Malik bin Marwan. Tergantung perangkat yang menjalankannya. Buktinya, banyak khalifah  yang diktator. Salah satunya adalah Abdul Malik bi...

Hubungan Erat Arab-Nusantara: Asal-usul Merah-Putih

Image
Hubungan Erat Islam-Nusantara: Asal-usul Merah-Putih. Pada abad ke 7 saudagar muslim Yaman berbondong-bondong datang ke Nusantara. Tujuan utama mereka menyebarkan agama Islam. Sesekali sambil berdagang; membeli rempah-rempah hasil petani Nusantara, lalu dijual ke mancanegara. Tidak ada niat menguasai kekayaan pribumi. Bangsa Arab datang mengajari bangsa Nusantara -kala itu belum ada nama Indonesia- berdagang, membaca dan cara beragama yang baik. Beberapa waktu kemudian, huruf Arab Melayu atau Arab Jawi (pegon) dijadikan sebagai huruf komunikasi dikalangan saudagar. Bahkan beberapa waktu kemudian huruf Arab itu resmi menjadi huruf yang dipakai dalam surat-menyurat antar negarawan dan surat-menyurat diplomasi antar kesultanan. Dengan semakin meluasnya pengaruh Islam, maka lahirlah sekitar 81 Kesultanan Islam dari Sabang hingga Merauke. Konon, dalam kehidupan bernegara mereka menggunakan merah-putih sebagai lambang kesultanan. Seperti yang ditulis oleh Sejarawan Muslim Prof. Mansur Surya...

Dasar Plagiat. Ah.

Image
Plagiat itu -versi Wikipedia- menjiplak karya -atau tulisan- orang lain dan menjadikannya seolah karya diri sendiri.  Penyakit plagiat ini bisa membunuh karakter kreatif seseorang. Dia jadi pemalas. Enggan berpikir. Buntu ide. Dan jika terus dibiasakan, tidak akan pernah berkembang. Dalam dunia jurnalistik, plagiat ini dianggap hina. Sangat hina. Dia tidak menghargai karya, pikiran, ide, pendapat dan usaha orang lain. Modal copy, lalu paste, dia seakan-akan adalah orang yang memiliki tulisan dan gagasan itu. Tanpa menulis sumber rujukannya.  Gampangnya, plagiat itu ingin kelihatan keren dengan cara tidak menghargai hasil orang lain. Ingin keren tanpa berpikir. Sok pinter tanpa mau berusaha. Modal Copas saja. Bayangkan, seseorang membaca banyak buku, mengolah data-data yang perlu, lalu menulisnya dengan bahasa yang mudah dimengerti banyak orang. Kemudian dibaca orang lain dan orang itu melakukan copas tanpa menyebut sumber awal. Kurang ajar bukan? Orang yang berusah...

Jejak Kejayaan Islam di Nusantara

Image
Beberapa waktu lalu saya menulis status tentang bukti kejayaan Islam di Nusantara yang berupa penyebaran aksara Arab Jawi di masa lalu. Aksara Arab Jawi -yang juga disebut Arab Melayu- adalah aksara yang resmi digunakan dalam surat menyurat antar saudagar, bahkan dikalangan kerajaan sekalipun. Penggunaan aksara Arab ini bahkan terus berlaku sampai Belanda menguasai Nusantara sebagai penjajah. Tercatat uang yang digunakan jual-beli saat pemerintahan kolonial Belanda atau VOC juga masih menggunakan Aksara Arab. Berikut buktinya: Gambar 1 adalah bagian depan uang bertulis 'Ila jaziroh jawa al-kabir' dengan aksara Arab. Gambar 2 adalah bagian belakang uang bertulis 'Dirham min kompeni welandawi' dengan aksara Arab. Dalam gambar ini, bertuliskan tahun 1765 yang merupakan tahun dicetaknya uang ini. Konon, tahun pertama uang ini dicetak adalah pada tahun 1747 saat VOC menjajah bangsa Nusantara. Artinya, bangsa Arab pernah berjasa membangun peradaban di Nusantara dengan cara da...